Pengusaha harus menoleh agar bisnis mereka selamat dari pandemi Covid-19

Laporan wartawan Tribunnews Malvyandie Haryadi-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM -Pandemi Covid-19 atau virus corona memaksa banyak orang menjalani berbagai pemeriksaan. Pasalnya, hampir seluruh industri terkena pandemi Covid-19, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hampir semua UMKM mengeluhkan penurunan pendapatan saat mereka memulai usahanya pada pertengahan 1990-an. Pandemi ini. -Misalnya, pedagang busana muslim di Dessy Indarti. Dessy mengaku pendapatan usahanya turun 50% selama pandemi-Dessy mengatakan agar bisa bertahan, ia harus berubah pikiran agar usahanya tidak mengalami penurunan pendapatan yang tajam. Salah satunya adalah produk inovatif.

“Agar pendapatan tidak turun, kita berinovasi, yang jelas,” kata Dessy Indarti belum lama ini. Handicrafts-Diakuinya, saat pandemi, bisnis busana muslimnya memang turun pendapatan. Sebelum pandemi, aktivitasnya turun hampir 50%. — Namun, dia tetap mengucapkan terima kasih atas prestasinya. Karena dibandingkan dengan pedagang lain, banyak orang yang menutup pintunya. Perusahaan pakaian muslim, terutama pada masa pandemi, perlu terus berinovasi agar pelanggan tetap tertarik dengan bisnisnya. Kedua, menurutnya, UMKM yang beroperasi dalam pandemi ini harus tetap menerapkan protokol sanitasi. Menurutnya, implementasi kesepakatan sanitasi yang ditetapkan pemerintah sangat penting.

“Inovasi produk, sesuai SOP Covid-19, hadir untuk pengelolaan yang berkelanjutan”, ujarnya. -Akhirnya, ia mengatakan bahwa jika segala upaya tidak dapat berjalan mulus maka sikap dan refleksi diri yang konsisten harus ditempuh. Tentunya semua perusahaan akan melakukan uji coba dan tes. Ini memungkinkan Dessy berhasil mengembangkan bisnis pakaian Muslimnya. Kemauan yang kuat dan keinginan untuk terus berinovasi memungkinkan Dessy mempekerjakan lebih dari 200 karyawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *