Toko mainan memberlakukan batasan sosial skala besar selama masa transisi

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Aktivitas industri mainan di dalam negeri kembali berlanjut, yakni sejalan dengan “kondisi pasar yang membaik”, produksi penggunaan kapasitas produksi terpasang mainan rumah tangga mulai berkembang ke tingkat normal. Sutjiadi Lukas, Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia (AMI), mengatakan dengan diberlakukannya pembatasan sosial transisi skala besar (PSBB), banyak toko mainan yang akan buka kembali pada Juli 2020.

Di sisi lain, peredaran mainan impor telah mengurangi jumlah rokok elektrik di pasaran saat pandemi corona (covid-19).

Kedua faktor ini mengurangi permintaan produk mainan lokal di toko ritel.

Baca: Video TikTok Ayah suka kucingnya dan sering keluar beli truk mainan

“Saya butuh toko merchandise. Karena hambatan transportasi antara Indonesia dan China, sulit menemukan produk impor.” Sutjiadi, Minggu (26/7) Dijelaskan saat menghubungi Kontan.co.id. Permintaan mainan turun pada kuartal kedua tahun 2020.

Tentunya selama masa implementasi PSBB, para pengecer mainan berkumpul untuk menutup kegiatan usahanya. Namun angka penjualan yang didapat masih belum bisa menyamai angka penjualan normal yang biasa didapat secara offline (offline).

Akibatnya, jumlah mainan yang diminta dari toko ke produsen juga menurun, sehingga produksi UX yang menggunakan pabrikan lokal turun hingga 50% dari total kapasitas terpasang.

Sekarang, dengan tren pemulihan pasar saat ini, tingkat pemanfaatan produksi dalam negeri kembali meningkat menjadi 65% -70% dari total kapasitas terpasang negara. AMI berharap dapat terus meningkatkan utilisasi produksi hingga akhir tahun.

“Jika tidak ada PSBB, kami berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi hingga 80% pada Desember,” kata Sutjiadi. (Tunai / Muhammad Julian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *