Sumber daya panas bumi yang kaya, dengan kapasitas terpasang baru sebesar 2,1 GW

Kepala Divisi Penyusunan Program Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru dan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, dilaporkan oleh Reynas Abdila, reporter Tribun News Network – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Direktur Jenderal Havidh Nazif sudah tidak asing lagi di Indonesia. — Dan di dunia, itu bahkan telah digunakan selama ratusan tahun.

“Pengembangan panas bumi bukan hal baru. Di Indonesia mulai beroperasi dari PLTP Kamojang pada tahun 1983. Saat ini kita memiliki sumber daya panas bumi (MW” sebesar 23.965 megawatt, “Havid, Sabtu (3/3). 10/2020) Dalam pembahasan risiko dan mitigasi pengembangan panas bumi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Iluni UI.

Baca: Kementerian ESDM dorong penggunaan PLTS di atas atap

Tapi mulai dari ketersediaan ini, baru Kapasitas terpasang 2,1 GW atau 2.130,7 MW.

Target tahun ini 2.270,7 MW, yang setara dengan 89% dari total kapasitas terpasang.

“Dari segi kapasitas terpasang, kontribusinya lebih besar lagi. Ini melibatkan 9.078 GWh Produksi listrik dan produksi uap 65,2 juta ton, ”jelasnya. Di sisi lain, investasi panas bumi masih tergolong kecil, yakni US $ 302 juta, yakni hanya 28,26% dari target 2020 US $ 1,05 miliar.Namun, EBT ini berkontribusi paling besar. Karena pengembangan panas bumi biasanya padat modal. Jadi untuk 1 MW kita butuh investasi 4-6 juta dollar AS, ”tambah Harvid.

Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) Dalam opening ceremony diskusi, André Rahadian mengatakan karena bahan bakar fosil dan cadangannya akan terus berkurang, energi baru terbarukan harus disiapkan dengan baik.

“Cadangan EBT yang kita gunakan masih Kaya, tahun 2025 kita sudah buat road map 2.000 MW sampai 5.000 MW. Pertanyaannya, apakah road map itu masih bisa diterapkan dalam situasi pandemi ini, ”kata Andre.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *