Dua organisasi industri tembakau menolak rencana menaikkan pajak cukai rokok pada 2021

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Dua organisasi besar industri tembakau (IHT) Indonesia, masing-masing Forum Komunitas Industri Rokok Indonesia (Formasi) dan Asosiasi Produsen Tembakau Indonesia (APTI) terus menolak rencana kenaikan cukai tembakau pada 2021. — Alasannya, rencana kenaikan pajak konsumsi tidak dapat secara efektif meningkatkan pendapatan nasional. Semakin tinggi tarif cukai rokok, dan semakin tinggi kenaikan harga rokok, maka semakin sulit menjual rokok. Terakhir, yang paling laris di pasaran adalah rokok ilegal yang tidak menggunakan label konsumen. Karena itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Formasi JP Suhardjo, Presiden APTI Jabar, mengatakan, penerimaan pajak konsumsi negara juga akan sangat berkurang. Suryana dan Presiden APTI Nusa Tenggara Barat (NTB) Sahminudin hadir dalam jumpa pers tersebut, Kamis (19 November 2020). Kenaikan pajak konsumsi tidak akan mempengaruhi penerimaan pemerintah. Sebab hingga saat ini, maraknya rokok ilegal semakin marak. Sekretaris Jenderal Pelatihan JP JP Suhardjo mengatakan, jika tarif pajak konsumsi dinaikkan, akan memberikan peluang bagi pelaku ilegal untuk terlibat aktif dalam produksi.

Lihat juga: Pajak konsumsi produk tembakau meningkat, dan konsumsi tembakau diperkirakan meningkat. Turun 30% -Menurut Suhardjo, perlindungan terhadap produsen kecil dan menengah harus diperhatikan sebelum mengeluarkan kebijakan. Jangkau sekitar 60-70 produsen.

Jumlah pekerja melebihi 30.000. Tujuh puluh persen anggota partai masih bertahan. Pabrik rokok yang masih mempekerjakan pekerja harus dilindungi. Oleh karena itu, idealnya tarif pajak tetap lebih disukai. Tidak melamar. Apalagi karena sudah saatnya COVID, semua orang pasti terpengaruh. Semua departemen lambat. Saya tidak ingat bahwa jika pajak konsumsi meningkat, maka akan semakin banyak kebangkrutan yang bangkrut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *