Bank Banten bergabung dengan Bank of Beijing, berapa harga sahamnya?

Reporter Tribunnews.com Yanuar Riezqi Yovanda-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee (Hans Kwee) mengatakan bahwa pasar keuangan, terutama tekanan pasar modal telah menyebabkan sebagian besar bank mengalami penurunan harga.

Hans melaporkan bahwa dia khawatir tentang perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh virus korona atau epidemi Covid-19, mendorong beberapa orang untuk menjual diri mereka sendiri.

Baca: OJK dipandang mendorong tindakan merger sehingga bank-bank besar muncul di Indonesia.

“Namun, bagi sebagian orang yang mengerti hal ini, niscaya akan mendatangkan peluang pembelian. Jika dalam jangka panjang, sektor keuangan biasanya mengevaluasi dalam PBV atau harga buku,” katanya di Jakarta, Jumat (4/4). 24/2020) berkata.

Rasio adalah nilai setiap lembar kertas yang membandingkan harga saham dengan harga buku.

Nilai buku per saham berasal dari penurunan aset dikurangi kewajiban perusahaan.

“Ini disebut bisnis, dan kemudian membagi data ini dengan nilai buku masing-masing saham. Hans berkata:” Apakah itu aset atau kewajiban, industri perbankan mencerminkan nilai pasar yang adil atau harga. “Namun, memang benar bahwa nilai aset tetap selalu dicatat pada nilai buku. Ini tidak selalu dinilai ulang – tetapi Hans melihat ini dan melihat merger PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) Masih ada peluang untuk PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). — “Menurut perhitungan kami, harga BJBR PBV adalah Rs 910, 0,74. Dalam keadaan normal, harga transaksi PBV BJBR biasanya 2,28-3,36 kali.

Baca: Kisah 3 Orang-orang yang telah diisolasi di rumah berhantu Sragen: mereka tidak akan diganggu oleh roh

Adapun penyebutan PBV sekali, masih mungkin bagi BJBR untuk mencapai level Rp 1,236.

Mengingat efek korosif bank dianggap positif, Hans membuat rekomendasi pembelian kepada BJBR.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *