Santri akan memiliki kartu digital untuk transaksi keuangan di Pesantren

Wartawan Tribunnews.com Yanuar Riezqi Yovanda melaporkan-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Pemerintah menyatakan bentuk peniruan pembangunan ekonomi dan keuangan Islam di pesantren antara lain adalah QR Code Indonesia (QRIS) dan kartu santri digital. Kedepannya, pemerintah akan bekerja sama dengan lembaga Islam LinkAja melalui platform iPesantren.id untuk melakukan uji biometrik transaksi keuangan antara pondok pesantren dan santriwati.

“Indonesia berpotensi meningkatkan indeks inklusi keuangan syariah. Rencana tersebut diharapkan dapat dilaksanakan di 3.300 pondok pesantren pada tahun 2024,” Iskandar Simorangir, Wakil Menteri Koordinator Perekonomian dan Koordinasi Makroekonomi, Jumat ( 7/8/2020) berkata.

Iskandar menjelaskan bahwa 28.194 pesantren di Indonesia dan sejumlah besar kelompok penduduk muslim telah menerapkan ekosistem untuk meningkatkan peluang inklusi keuangan syariah.

Bacaan: Ekosistem sistem ekonomi Islam akan diperluas melalui pesantren-melalui pendidikan dan literasi keuangan Islam, pendanaan Islami untuk anggota parlemen di sekitar pesantren dan anggota parlemen di bawah binaan pesantren Menerapkan ekosistem Islam untuk menerapkan ekosistem terkait. Selain itu, pembukaan rekening syariah, rencana tabungan emas, dan kemandirian ekonomi pesantren serta keuangan syariah, semuanya mendukung rantai nilai halal. -Iskanda kata.

Baca: Anggaran Kementerian Agama RI dinilai tidak berpihak kepada pesantren

Menurutnya, dalam basis pesantren, terdapat ekosistem pendukung Implementasi dari Unit Lingkungan Pesantren (ULKS) yang terdiri dari pengurus bank syariah, Pegadaian syariah, Unit Penghimpun Zakat (UPZ) agen syariah Islam dan Pusat Halal Pondok Pesantren. – — Selain itu, sistem ajaran Islam yang komprehensif telah dibangun di pesantren. Organisasi tersebut mendukung pembayaran santri atau santriwati, santri atau pengurus pesantren untuk membayar sumbangan untuk pendidikan pengembangan (SPP) pesantren dan masyarakat sekitar Sistem pembayarannya elektronik.

“Ini bisa dicapai dengan digitalisasi kartu santri di kios digital pondok pesantren dan menggunakan metode pembayaran QRIS. Iskandar menyimpulkan hal tersebut untuk mendukung inklusi keuangan syariah berbasis digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *