Nusron menuding Mendag mewajibkan importir membeli gula dari petani dengan harga 11.200 rupee per kilogram.

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Anggota Panitia Keenam DPR Nusron Wahid meminta Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (Agus Suparmanto) berkomitmen kepada BUMN dan importir gula dengan tarif Rp 11.200 / Kg. Tugas membeli gula dari petani. Pertemuan antara importir Jawula dengan Asosiasi Produsen Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) diselenggarakan oleh Kementerian Perekonomian. Nyatanya, sejauh ini keinginan membeli gula dari petani belum terwujud.

“Saya minta Menteri Perdagangan untuk menghormati martabat manusia. Jika mereka (perusahaan importir gula) tidak mau membeli gula dari petani, silakan gunakan pena berizin mereka. Sanksi diberikan. Oleh karena itu, tahun ini, jika tidak dilakukan, Nuss Nusron Wahid mengatakan pada Kamis (27 Agustus 2020): “Jika tidak ingin membeli, jangan berikan kuota impor yang lain. Baca: APTRI merekomendasikan harga gula patokan Rp 12.025 / Kg kepada petani. Politisi dari Partai Golkar itu mengungkapkan, Menteri Perdagangan harus sepakat dalam keputusan politik untuk menyelesaikan solusi bagi produsen gula yang dirugikan oleh kebijakan impor.- – Akibatnya, hingga saat ini importir yang bertanggung jawab membeli gula dari petani membutuhkan Rp 11.200 / Kg, dan Menteri Perdagangan harus menghapusnya.

Jika tidak, Menteri Perdagangan dapat mengambil solusi lain dengan menaikkan HET. Dia berkata: “Tapi efeknya adalah saya khawatir tentang inflasi. “Atau, sebagai solusi lain, Menteri Perdagangan dapat mengambil kebijakan peningkatan HPP gula petani. Hal ini untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas distribusi industri gula nasional.

Seperti diketahui, importir membeli gula dari petani untuk dijual. Urutan kronologis penyaluran Rp.11.200 / Kg per tahun dimulai pada 10 Juni. Pada tahun 2020, DPN Aptri mengirim surat kepada Menteri Perdagangan dan Komite DPR VI. Faktanya importir harus membeli gula dari kebun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *