Trend Ngaji Online dan Ambyarnya Kharisma Kiai NU, saatnya untuk melanjutkan!

Tren Pengajian Online dan Ambyarnya Kharisma Kiai NU, Waktunya Beralih!

Penulis: KH. Imam Jazuli, Los Angeles (MA) *

Penyakit Corona Viruz 2019 (Covid-19) tak hanya menumbangkan ribuan nyawa manusia di seluruh dunia. Tetapi hal yang sama berlaku untuk semua egosentrisisme manusia. Tak kalah serius, asumsi budaya warga Nahdrin juga merosot. Pengalaman Ramadhan ini harus ditafsirkan.

Pertama-tama, ketika wabah Covid-19 menyebar, banyak pesantren yang menutup kegiatan mengajarnya. Mahasiswa dapat memilih untuk kembali ke kampung halamannya.

Untuk tetap berhubungan dengan persahabatan dan intelektual, orang-orang terkasih yang karismatik dan orang-orang tepercaya dapat menggunakan media sosial. Mereka mengatur pengajian online; membaca buku kuning dan melakukan penelitian waktu nyata.

Kedua, kenyataan tidak layak untuk dinanti-nantikan. Kiai dan Gus, yang menunjukkan pesona luar biasa di sekolah asrama, tampaknya telah kehilangan aura luar biasa mereka dan tidak lagi terburu-buru ke dunia maya.

Sejauh ini, kekuatan budaya tampaknya telah runtuh, dan jejak digital membuktikan bahwa pengajian online mereka tidak memiliki peminat, yang membuktikan kemampuan ini.

Realitas yang “pahit” ini menimbulkan kecurigaan ribuan Santri yang pulang kampung. Mereka menghargai keterpisahan dari suku Kea, atau bahwa inilah realitas sosial suku suku tersebut di era millennium. — Apakah Anda memiliki pertanyaan tentang Islam dan Ramadhan? Anda dapat mengajukan pertanyaan dan berkonsultasi langsung dengan Ust’s Islamic Consultation. Zul Ashfi, S.I. Lc

Kirim permintaan Anda ke konsultasi@tribunnews.com

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi Bagian Ajaran Islam Tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *